Rabu, 24 Desember 2014

TUGAS ETIKA PROFESI AKUNTANSI (TUGAS 2: JURNAL)

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 7.2 (2014): 444-461

PENGARUH INDEPENDENSI, PROFESIONALISME,
TINGKAT PENDIDIKAN, ETIKA PROFESI, PENGALAMAN,
DAN KEPUASAN KERJA AUDITOR PADA KUALITAS
AUDIT KANTOR AKUNTAN PUBLIK DI BALI

Putu Septiani Futri
Gede Juliarsa

1. fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia
2. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia
e-mail: septi_embemm@yahoo.com / telp: +6285737606852


ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh independensi,
profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor terhadap kualitas audit di Kantor Akuntan Publik di Bali. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa daftar nama Kantor Akuntan Publik dan data primer berupa jawaban-jawaban responden dari pengumpulan data kuesioner. Penelitian ini menggunakan metode simple random sampling dalam penentuan sampel dan ada 36 sampel yang memenuhi kriteria. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda untuk teknik analisis datanya, dimana hasil penelitian menunjukkan variabel independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor berpengaruh secara simultan terhadap kualitas audit. Secara parsial hanya tingkat pendidikan dan etika profesi berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
Kata kunci: independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor


PENDAHULUAN

Laporan keuangan adalah ringkasan dari proses pencatatan atas transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun berjalan. Laporan keuangan berdasarkan prinsip akuntansi yang diterima umum (Standar Akuntansi Keuangan), yang diterapkan secara konsisten dan tidak mengandung kesalahan yang material (besar atau immaterial) adalah laporan keuangan yang wajar.

Pihak internal perusahaan yaitu manajemen dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan perusahaan. Manajemen memerlukan informasi keungan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan, pengambilan keputusan, dan memudahkan dalam mengelola perusahaan. Pihak eksternal perusahaan meliputi: kreditor, calon kreditor, investor, calon investor, kantor pajak, pihak-pihak lain yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan perusahaan tetapi memiliki kepentingan dalam perusahaan agar mengetahui kemajuan perusahaan di masa yang akan datang. Manajemen harus membuat sistem pengandalian intern, untuk mengecek ketelitian serta kebenaran data-data akuntansi yang digunakan, agar perusahaan dapat bersaing dan bahkan mampu meningkatkan mutunya. Pengendalian intern merupakan pengawasan terhadap kualitas kinerja stafnya. Misalnya usaha manajemen dalam mencegah terjadinya kecurangan atau penggelapan dana terhadap kekayaan perusahaan. Terjadinya praktek kecurangan yang dilakukan oleh karyawan pada satu atau bagian dalam organisasi, maka dari itu manajemen harus mengajukan permohonan audit atas laporan keuangan. Ada dua karakteristik terpenting yang harus ada dalam laporan keuangan menurut FASB yakni relevan (relevance) dan dapat diandalkan (reliable). Kedua karakteristik tersebut sulit diukur, sehingga para pemakai informasi membutuhkan jasa akuntan publik. Jasa dari para akuntan yang bekerja di suatu Kantor Akuntan Publik (KAP) atau para auditor eksternal sangat dibutuhkan sebagai jaminan laporan keuangan tersebut memang relevan serta dapat meningkatkan kepercayaan pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Akuntan Publik adalah profesi yang memberikan pelayanan bagi masyarakat umum, khususnya di bidang audit atas laporan keuangan. Audit ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan pengguna laporan keuangan informasi seprti, investor, kreditor, calon kreditor dan lembaga pemerintah (Boyton & Kell, 2006:16 dalam Suseno 2013).

Jasa yang diberikan oleh kantor akuntan publik yaitu dalam bidang auditing, dan tipe penugasan atestasi lain. Tugas akuntan publik yang lain adalah memeriksa laporan keuangan dan bertanggung jawab atas opini yang diberikan atas kewajaran laporan keuangan sehingga bisa digunakan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan.

Besarnya kepercayaan pengguna laporan keuangan pada Akuntan Publik ini mengharuskan akuntan publik memperhatikan kualitas auditnya. Ironisnya, kepercayaan yang besar dari pemakai laporan keuangan kepada akuntan publik seringkali diciderai dengan banyaknya skandal , misalnya saja pada akhir tahun 2001 sebuah perusahaan terkemuka di dunia yang mempekerjakan sekitar 21.000 orang pegawai yaitu Enron Corporation akhirnya bangkrut. Kebangkrutan Enron dianggap sebagai akibat dari kesalahan Akuntan Publik yang tidak dapat mendeteksi kecurangan yang dilakukan oleh manajemen Enron.

Dalam konteks tersebut, memunculkan pertanyaan apakah kecurangan yang dilakukan oleh manajemen. Apabila auditor melakukan hal tersebut maka dapat dipastikan bahwa seberapa bagusnya opini yang diberikan oleh auditor tidak akan berpengaruh terhadap risiko yang dihadapi oleh investor dan kreditor.

Independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor menjadi hal yang penting dalam pelaksanaan fungsi pemeriksaan karena selain mematangkan pertimbangan dalam penyusunan laporan hasil pemeriksaan, juga untuk mencapai harapan yakni kinerja yang berkualitas.Independensi berarti sikap mental yang tidak mudah dipengaruhi. Sebagai seorang Akuntan Publik tidak dibenarkan untuk terpengaruh oleh kepentingan siapapun baik manajemen maupun pemilik perusahaan dalam menjalankan tugasnya. Akuntan publik harus bebas intervensi utamanya dari kepentingan-kepentingan yang menginginkan tidak ada hasil audit yang merugikan pihak yang berkepentingan.


METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Propinsi Bali yang merupakan anggota Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Sampel diambil dari 9 KAP yang terdapat di Bali.
Objek penelitian ini adalah pengaruh independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali.
Definisi operasional dibentuk dengan cara mencari indikator empiris konsep. Seluruh variabel dalam penelitian ini diukur dengan skala Likert dengan 4 point. Dimana semakin mengarah ke point 1 maupun point 4 dapat ditentukan bahwa variabel tersebut berpengaruh atau tidak dalam menentukan kualitas audit.


 HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan tabel 2 diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa seluruh butir pertanyaan untuk mencari informasi mengenai variabel independensi, profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, kepuasan kerja dan kualitas audit dinyatakan Valid. Hal ini terlihat dari nilai rhitung > rtabel. Indikator lainnya yang dapat memberikan informasi adalah nilai probabilitas korelasi yaitu 0,000 artinya nilai tersebut < 0,05, sehingga variabel independensi profesionalisme, tingkat pendidikan, etika profesi, pengalaman, kepuasan kerja dan kualitas audit dinyatakan valid.








Berdasarkan Tabel 2. terlihat bahwa seluruh instrumen atau butir pertanyaan dalam variabel reliabel. Hal ini terlihat dari seluruh croanbach’s alpha dari masing-masing variabel nilainya melebihi kriteria yang dipersyaratkan yaitu 0,60.




Hasil pengujian asumsi klasik pada Tabel 3. menunjukkan bahwa model pengujian telah terbebas dari masalah normalitas data,multikoliniearitas, dan heteroskedastisitas.





Pengaruh Independensi pada Kualitas audit
Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit di Kantor Akuntan Publik di Bali yang terlihat dari tingkat signifikansi (0,079)>α (0,05). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Ardani (2010), Saripudin (2012), dan Wulandari (2012). Namun ada penelitian yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan Permatasari(2011), Wahyuni (2013) yang menunjukkan bahwa independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Independensi auditor adalah landasan dari profesi akuntan publik. Penurunan atau kurangnya independensi auditor adalah sebuah ancaman, dimana akan menyebabkan banyak perusahaan runtuh dan skandal korporasi di seluruh dunia. Tanpa independensi kualitas audit dan tugas deteksi audit akan dipertanyakan, Mansouri dkk. (2009).

Keadaan seringkali mengganggu independensi auditor, karena ia dibayar klien atas jasanya, sebagai penjual jasa, auditor cenderung memenuhi keinginan klien (Ling Lin, 2012). Persaingan antar Kantor Akuntan Publik bisa jadi pemicu kurangnya independensi auditor, sehingga auditor rentan mengikuti kemauan dari klien agar tidak kehilangan pendapatannya.

Pengaruh Profesionalisme pada Kualitas Audit
Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa profesionalisme tidak berpengaruh terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,057)> α (0,05). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Wulandari (2012). Namun ada penelitian yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan Faisal dkk. (2012) yang menyatakan bahwa profesionalisme tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Untuk meningkatkan kualitas audit, seorang auditor dituntut agar bertindak profesional dalam melakukan pemeriksaan. Auditor yang profesional akan lebih baik dalam menghasilkam audit yang dibutuhkan dan berdampak pada peningkatan kualitas audit. Adanya peningkatan kualitas audit auditor maka meningkat pula kepercayaan pihak yang membutuhkan jasa profesional. Dengan demikian profesionalisme perlu ditingkatkan, karena sangat penting dalam melakukan pemeriksaan sehingga akan memberikan pengaruh pada kualitas audit auditor. Harapan masyarakat terhadap tuntutan transparasi dan akuntabilitas akan terpenuhi jika auditor dapat menjalankan profesionalisme dengan baik sehingga masyarakat dapat menilai kualitas audit.

Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa tingkat pendidikan terbukti berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,005)<α (0,05). Hal ini menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan auditor maka semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap kualitas audit seorang auditor. Hal ini memberikan suatu gambaran dimana tingkat pendidikan yang dimiliki seorang auditor akan meningkatkan kualitasnya, karena dengan jenjang pendidikan yang tinggi, hal ini berkecendrungan kuat akan meningkatkan wawasan serta kemampuan seorang auditor untuk memegang tanggung jawab serta meningkatkan perannya dalam menjalankan tugasnya. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi pula tentunya akses informasi yang dimilikinya menjadi lebih banyak sehingga kompetensi dalam menjalankan tugas akan semakin meningkat dan hal itu akan berdampak pada peningkatan kualitasnya. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Anggraini, Rani, dan Lismawati (2013), yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh pada kualitas audit.

Pengaruh Tingkat Pendidikan pada Kualitas Audit
Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa etika profesi berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,008)<α (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi etika profesi auditor maka semakin baik pula kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali. Hasil penelitian ini mendukung penelitian oleh Rahma (2012) dan Wahyuni (2013), yang menyatakan bahwa etika profesi berpengaruh pada kualitas audit. Dengan menjunjung tinggi etika profesi diharapkan tidak terjadi kecurangan diantara para auditor, sehingga dapat memberikan pendapat auditan yang benar-benar sesuai dengan laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan. Jadi, dalam menjalankan pekerjaannya, seorang auditor dituntut untuk mematuhi Etika Profesi yang telah ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi persaingan diantara para akuntan yang menjurus pada sikap curang. Dengan diterapkannya etika profesi diharapkan seorang auditor dapat memberikan pendapat yang sesuai dengan laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan. Jadi, semakin tinggi Etika Profesi dijunjung oleh auditor, maka kualitas audit juga akan semakin bagus.

Pengaruh Pengalaman pada Kualitas Audit
Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa pengalaman tidak berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,066)>α (0,05). Hasil penelitian ini di dukung oleh penelitian Badjuri (2011) dan Septiari (2013). Hal ini menunjukkan semakin rendah pengalaman auditor maka semakin rendah pula kualitas audit auditor tersebut.
Adapun faktor yang menyebabkan kurangnya pengalaman pada auditor adalah, kurang lamanya bekerja pada Kantor Akuntan Publik, dalam hal ini adalah audit junior, dan selain itu kurangnya kompleksitas tugas yang dihadapi auditor, semakin sering auditor menghadapi tugas yang kompleks maka semakin bertambah pengalaman dan pengetahuannya. Begitu juga dengan risiko audit yang dihadapi oleh seorang auditor juga akan dipengaruhi oleh pengalaman dari auditor tersebut. Auditor akan berusaha untuk memperoleh bukti-bukti yang diperlukan untuk mendukung judgment tersebut. Dalam melaksanakan tugas auditnya seorang auditor dituntut untuk membuat suatu judgment yang maksimal. Untuk itu auditor akan berusaha untuk melaksanakan tugasnya tersebut dengan segala kemampuannya dan berusaha untuk mengindari risiko yang mungkin akan timbul dari judgment yang dibuatnya tersebut.


Pengaruh Kepuasan Kerja Auditor pada Kualitas Audit
Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali terlihat dari tingkat signifikansi (0,033)<α (0,05). Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Gautama dkk. (2010), Widyasari (2010). Respon seseorang meliputi respon terhadap komunikasi organisasi, supervisor, kompensasi, promosi, teman sekerja, kebijaksanaan organisasi dan hubungan interpersonal dalam organisasi.


SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan pembahasan di atas, maka simpulan penelitian adalah:

1) Independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
2) Profesionalisme tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
3) Tingkat pendidikan profesionalisme berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
4) Etika profesi berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
5) Pengalaman berpengaruh tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.

6) Kepuasan kerja auditor berpengaruh positif terhadap kualitas audit.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas, saran yang dapat diajukan ialah sebagai berikut :
Dengan tidak terbuktinya independensi, profesionalisme, pengalaman, dan kepuasan kerja auditor pada kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali, maka penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan kepada pihak Kantor Akuntan Publik dalam menilai kualitas audit dan lebih meningkatkan independensi, profesionalisme auditor, selain itu memberikan auditor junior kesempatan lebih banyak dalam menjalankan profesinya dan Kantor Akuntan Publik memberikan penghargaan pada auditor-auditor yang sudah bekerja dengan baik, sehingga auditor memiliki kepuasan kerja dalam melaksankan tugasnya.

Keterbatasan penelitian ini, yaitu penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data melalui kuesioner sehingga data yang diperoleh berdasarkan persepsi responden saja, maka penelitian selanjutanya dapat dilengkapi dengan melakukan observasi yang lebih mendalam. Dari hasil uji koefisien determinasi (adjust R square) penelitian ini variabel bebas mampu menjelaskan variabel terikat sebesar 9,1% sehingga masih ada variabel-variabel bebas lain yang perlu diindentifikasi untuk menjelaskan kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bali


REFERENSI

Ardani, Lilis. 2010. Pengaruh Kompetensi, Independensi, Akuntabilitas, dan Motivasi Terhadap Kualitas Audit. Dalam Majalah Ekonomi Tahun XX.

Badjuri, Achmat. (2011). Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Audit Auditor Independen pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jawa Tengah. Dinamika Keuangan dan Perbankan. 3(2) (Nov) h: 183-197.

Baotham, Sumintorn. 2007. The Impact of Proffesional Knowledge and Personal Ethics on Audit Quality. International Academy Bisnis & Ekonomi.

Chanawongse, Kasom., Poonpol, Parnsiri., Poonpool, Nuttavong. 2011. The Effect of Auditor Professional on Audit Quality: An Empirical Study of Certified Public Accountants (CPAs) in Thailand. International Academy Bisnis & Ekonomi.

Faizal, Hardiyah, M. Rizal Yahya. 2012. Pengaruh Kompetensi, Independensi dan Profesionalisme Terhadap Kualitas Audit Dengan Kecerdasan Emosional Sebagai Variabel Moderasi (Survei pada Kantor Akuntan Publik di Indonesia). Dalam Jurnal Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Friska, Novanda. 2012. Pengaruh Profesionalisme Auditor, Etika Profesi, dan Pengalaman Auditor Terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.

Gautama, Ibnu dan Muhammad Arfan. 2010. Pengaruh Kepuasan Kerja, Profesionalisme, dan Penerapan Teknologi Informasi Terhadap Kinerja Auditor. Dalam Jurnal Telaah & Riset Akuntansi, 3(2) Juli: pp: 195-205

Halim, Abdul. 2008. Auditing I (Dasar-Dasar Audit Laporan Keuangan), Edisi Ketiga. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Jena Sarita, Dian Agustia. 2013. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Situasional, Motivasi Kerja, Locus Of Control Terhadap Kepuasan Kerja dan Prestasi Kerja Auditor. Simposium Nasional Akuntansi 12.


Laksmi Dewi, GAA. 2010. Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pelatihan Kerja, Pengalaman Kerja, dan Profesionalisme Petugas Pemeriksa Pajak Pada Penyelesaian Pemeriksaan Pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama se-Bali. Skripsi. Jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Denpasar.

Kamis, 02 Oktober 2014

ETIKA PROFESI AKUNTANSI


Tugas : Membuat Sinopsis Buku Mengenai “ Etika Profesi    Akuntansi”  (Tugas Kelompok)

Kelas  : 4EB14

Nama Kelompok           :

- Putri Sari Sigiro             25211670                   

- Mirna Wati Dewi           24211500       

- Nurul Sarah                   25211409

- Intan Vantimi                 23211683

- Fidiya Fitriatun              22211854

Judul                               : Accounting Ethics, 2nd Edition
Pengarang                       : Ronald Duska, Brenda Shay Duska, Julie Anne Ragatz
Penerbit                          : Wiley-Blackwell, April 2011
Sinopsis                          :
Edisi baru Etika Akuntansi telah secara komprehensif diperbarui untuk menghadapi perubahan signifikan dalam profesi akuntansi sejak tahun 2002. Penulis secara sistematis mengeksplorasi berbagai masalah baru etika yang muncul sebagai akibat dari perkembangan terakhir, termasuk krisis keuangan tahun 2008.
·       Menyoroti perdebatan atas penggunaan akuntansi dengan nilai wajar dan prinsip-prinsipnya dibandingkan aturan berbasis standar
·        Menawarkan gambaran yang komprehensif tentang etika dalam akuntansi, serta pemeriksaan dan rekomendasi untuk menyelesaikan krisis terkini di bidang ini
·        Menyelidiki sifat dan tujuan akuntansi
·  Menggunakan contoh-contoh konkret dan studi kasus, termasuk situasi saat ini
·     Memeriksa tanggung jawab etis akuntan individual maupun perusahaan akuntansi

Kamis, 01 Mei 2014

Report of Article


 Smartphones Allow Developing Countries Greater Access to Reading

The proliferation of the smartphone is having an unforeseen effect on developing countries, as people are reading more thanks to the ability to surf the Internet or read books via the smartphone’s various applications, according to an article by Hector Tobar in The Los Angeles Times.
A report from UNESCO stated that people who had limited access to books were now reading more because of smartphone technology.  The report contained the results of a survey given to 4,000 people in Pakistan, Nigeria, Kenya, India, Ghana, Ethiopia, and Zimbabwe.
WorldReader, a nonprofit that distributes digital readers, along with Nokia were collaborators in the survey project.  What the survey results showed was that people from under-developed countries are enjoying reading more and are reading books and stories to their children — and 90% of those surveyed said that they would be reading more on their phones in the coming year.  A man living in Zimbabwe was quoted as saying:
“We live in a remote area where there are no libraries, and the books I have in my own small library are the ones which I have already read. So this is now giving me a chance to choose from a variety of fiction titles.”
A Zimbabwean student reports that “I actually read more on my mobile than I used to. I think it is because I can carry my phone everywhere I go and it is quite easier than carrying a book, and it is always there when I want to read.”
The United Nations also stated that the of the approximately 7 billion people inhabiting the planet at this time, 6 billion have access to a working cell phone.  By comparison, those who have access to a toilet number 4.5 billion.
UNESCO’s report also emphasized that smartphone technology will easily and cheaply make text accessible to those who have not had access before.  The author of the report, Mark West, said that the most important conclusion from the survey was that mobile devices are going to play a part in the development, sustainability, and enhancement of the literary skills of people worldwide.  He added that these improving skills would result in “life-changing opportunities and benefits”.
An important and positive result of the increase in this technology is the affordability of downloading text.  A book can be read on a mobile device in Zimbabwe for about 5 or 6 cents, while a paper book there might cost as much as $12.  That, along with the the lack of libraries and the scarcity of personally owned books, makes mobile reading a popular choice.
The most popular reads, according to the survey are romance novels.  The next most read genre was religion.  It also revealed that women are more active readers than men.
UNESCO seeks to make this technology helpful and accessible in the following ways:
1) Diversify mobile reading content and portals to appeal to specific target groups
2) Increase outreach efforts to create opportunities to potential users to experiment with mobile reading and learn about its benefits
3) Lower cost and technology barriers to mobile reading
sumber : http://www.educationnews.org/technology/smartphones-allow-developing-countries-access-to-reading/

Report of Article

Title :
Smartphones Allow Developing Countries Greater Access to Reading
Summary :
The use of smartphones greatly help people in developing countries to read, especially in remote areas that rarely library. Smartphone application to facilitate the kinds of people in the remote area for reading books more easily and cheaper.
History :
Developing countries first communities in remote areas such as Zimbabwe difficult to obtain textbooks for their reading needs. Today, with the development of technology growing increasingly sophisticated and who has entered into remote areas to make the community easier access to books and reading to broaden their entertainment.
Factual things :
According to a survey in Zimbabwe a book can be accessed on mobile devices at a cost of 5-6 cents, while printed books cost about $ 12. This makes 90% of people surveyed choose to read books via smartphone. However, the limited reach of the Internet is still a barrier entry with internet access to remote areas.
UNESCO seeks to make this technology helpful and accessible in the following ways:
1) Diversify mobile reading content and portals to appeal to specific target groups.
2) Increase outreach efforts to create opportunities to potential users to experiment with mobile reading and learn about its benefits.
3) Lower cost and technology barriers to mobile reading.
Conclusion :
Internet and smartphone applications are very helpful in the dissemination of information and insight to even get to the remote areas are still far away from modern life. Remote smartphone app helps people to read the book. Remote community far from the library can easily carry their mobile phone and can be read anywhere. Internet coverage area should be developed further so that the whole world can enjoy the ease of reading, especially in adding insight and information.

Minggu, 30 Maret 2014

ARTICLE OF BUSINESS ENGLISH

Nama Kelompok :

1.        Dian Muyasaroh                       27211798
2.        Fidya Fitriatun                           22211854       
3.        Mita Rahayu                             24211512                               
4.        Putri Sari Sigiro                         25211670
5.        Winda Arianti                            27211416

Japan is one of the biggest economies in the world. Based on a survey internaisonal many institutions , the Japanese economy is the second largest economy in Asia ( Slightly under PRC ) and third in the world (besides the U.S. and the PRC ) . Japan is known as an innovative country and has a high work spirit even though their nation is not the inventor . One of the factors that drive the success of Japan dikarena Japan has a culture and character of the population who are willing to work hard ,never give up , a true entrepreneurial spirit ,braveandhighlydisciplined.Data from the United Nations in 2011 , Japan has a GDP per capita of $ 37.039 and GNP per capita of $ 30,455 , thus Japan comes out to 21 countries with the largest GDP and GNP per capita in the world .

Japan's economy is the fastest no.3 economy throughout the modern history of mankind apart from South Korea and the PRC economy . Milestones and progress of Japan's economic revival starts shortly after the Allies defeated Japan in World War 2 . While the cities and the Japanese economy ever built prior to 1945 were destroyed , with morale , work ethic and discipline of the Japanese people were able to rebuild the economy and the country became one of the largest and strongest in the world .

Japan's economy is growing rapidly , in an instant just able to compete with the U.S. and European countries that occurred in several countries banning anti - Japanese and Japanese products . Even so , Japan continues to be a successful country .

Japan's economic state is built with a strong foundation with heavy industry , manufacturing and services as the main pillar of Japan's economy mereka.Industri is the best industry in the world ( beating the U.S. in 2008 ) . Japan became the world's industrial giant from 1960 to 2004 . Japanese industry has long crutch by large capital , qualified human resources , the availability of electricity and advanced support tools .

Japan's main industry is the world's most recognizable automotive ( either motorcycles or cars ) , but more than that the Japanese also producer of ships, electronics , cell phones , machines , robots ( android ) , steel ( metal ) , computers , textiles , silk , bio - industrial , semiconductor , pharmaceutical , paper , petrochemical , food , space technology , aluminum and others . Almost all industries in Japan on export behavior . Want proof ?see , on the streets of Indonesia, India , Malaysia and the Philippines are often found made ​​cars Honda , Suzuki , Toyota , Hino , Isuzu , Mitsubishi and Mazda . Household appliances made ​​in Japan dominated tools such as Sharp , Mito , Mitoshiba , Toshiba , Canon etc. . Until now , Japan is the most successful country in the history of the industry .

In addition , Japan also invaded another country through their film and anime industry . Anime ( Animation ) Japan invaded the world such as : Doraemon , Ninja Hatori , Naruto , One Piece etc. .Of its animation industry ( Anime ) , Japan posted a total net keutungan around 2983.03 billion yen .

Although Japan developed countries , Japan has not forgotten other business sectors such as agriculture . Agriculture in Japan was ahead and apply the intensification of agriculture , so that although the area of ​​Japan is used as agricultural land is less than 15 % self-sufficient in Japan can meet its domestic needs . Agriculture in Japan mostly use hydroponic systems , green manure / compost and modern machines . 2011, Japan managed to become self-sufficient over rice ,soybeans ,peanuts ,seaweed ,tea ,tomatoes ,vegetables ,cabbage , pears , oranges , apricots , turnips , corn , potatoes , sticky rice , wheat , flowers and wasabi . Although self-sufficiency , to make sanbei , Japan still imports rice from Vietnam and Thailand .

Mining is a business that is less successful in Japan , because the Japanese earth is very poor and very few produce minerals . Earth Japan recorded only produces salt , coal , copper , bauxite , gold , iron ore , nickel , tungsten and natural gas in an amount that is far from enough . Only water energy , wind and solar thermal contained abundant amounts .

Fisheries , fisheries Japan is very advanced with the support of the tools of modern fishing , large fleet and capital as well as the capture of a very wide area . No wonder Japan was once the world's number 1 producer of fish from 1968 to 1996 . In 1996 , fish production in Japan continued to decline and eventually is positioned on six until now . However , the fishing fleet remains the best in the world . Fishery products / Japanese fishermen in general are: tuna , skipjack tuna , sardines ,mackerel ,cod ,herring ,whales , seals , salmon , crab , octopus , squid ,sea eel ,shrimp ,salmon ,scallops oysters , saury and other types of other . Meanwhile , pigs , cows , horses , sheep , chickens , ducks and seals as well as crocodiles and snakes are the result of Japanese farms .

Doing business with the Japanese People
Japan is a highly developed economies in Asia . Many other developed countries are interested in investing in this country . Not as a consumer , but a producer . As we all know , Japan is known worldwide as a supplier of the most advanced technologies in the world .
But in the midst of economic progress , it turns out doing business in Japan including easy bother . Why ? Because outside the bustle of technological developments , it was Japan still holds strong traditional values ​​and cultural and historical aspects of feudalism . This is natural because Japan is an archipelago geographically quite isolated from outside cultural influences . Although now it is already not too obvious , but you still need to be careful . If you are interested to do business with the Japanese , you'll want to follow some of the suggestions Kevin B. Bucknall , author of " Japan - Doing Business in a Unique Culture , " to increase the chances of success for your cooperation .
1 . Prepare enough material
The Japanese enjoy the data . If you want to do a presentation in front of the Japanese business , make sure you have enough data to support the fact . Serve in English alone , do not need to be in Japanese . Japanese people generally understand written English , but is not very adept at saying it . If they will not understand your data , they will not hesitate to ask questions later .
2 . Wait until permitted
Do not talk if it is not allowed . In Japan , a lot of talk and interrupt the speech of others is regarded as impolite even childish , even in casual or informal meeting though. Instead , silence and listening will impress you respect them .
3 . Do not insult your government
Do not criticize , reproach , or the lack of state government in your own country even if it is a fact . Japanese people generally nationalist , and criticism of the government will make them surprised , and would blur the focus of their top business objectives .
4 ." Profit " is a term that is less pleasing
The Japanese put loyalty and business antarperlaku harmonious relationship . Not that profit is not important , but they are concerned with the long -term relationship . However you may disclose on market share and business growth . In essence , raise the positive intentions of your business goals with them . They do not always look at money as the main thing .
5 . Responding gratification
If you receive gifts of goods or money outside the employment agreement , you should ask the subordinate giver , about the reason and purpose of the gift. If not , the giver will wonder why you did not respond to the prize or gift . Know why , and do not ever give gift giver reward , because they will assume you do not like the gift they give .
6 . Be careful in asking for an explanation
If you do not understand the explanation of them , be careful in asking for an explanation . They will think you are asking them to repeat . In many countries , this is a normal thing , but not for the Japanese . Wait until they are finished with their conversation , and when there was a pause , then you can apologize and ask for a more detailed explanation because there is a part that you donot understand .

Reference :